Tampilkan postingan dengan label Materiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Pemuda, KNPI Dan Kualitas Independen






Oleh: Karmin Lasuliha


(Adalah aktivis dan pemerhati sosial)

Kebanggaan itu muncul dengan sendirinya, bersinergi bersama kawan maupun lawan, karena perbedaan itu di pahami sebagai nilai ibadah, itu pemuda dahulu. Bagaimana saat ini? setiap gerak langkah memunculkan kecurigaan, karena nilai telah hilang di telan rasa. Jika berbuat, tentunya harus dengan intrik dan interest. Duit menjadi indikator utama, entah dari mana dan bagaimana cara mendapatkannya, yang paling penting kegiatan menunjang muslihat bisa berjalan sebagaimana pikiran picik nya.Kami percaya bahwa pemuda Indonesia masih berfikir dewasa, bukan hanya menjual dagangan biasa melainkan kualitas pikir untuk pembangunan bangsa.

Jumat, 03 Januari 2014

Dinasti Politik, Korupsi, dan Demokrasi



Oleh Burhanuddin Muhtadi

OPERASI tangkap tangan terhadap Ketua nonaktif Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar yang kemudian menyeret dinasti politik Banten Ratu Atut Chosiyah dan Tubagus Chaeri Wardana mengingatkan saya pada sebuah film berjudul Max Havelaar. Film itu diangkat dari roman dengan judul yang sama yang ditulis oleh Multatuli, nama samaran dari Eduard Douwes Dekker, ketika penulis ditugaskan sebagai asisten residen di Lebak pada masa penjajahan Belanda. Max Havelaar adalah sosok protagonis yang melawan ketamakan dan penindasan Bupati Lebak Karta Natanagara yang didukung oleh Residen Banten Brest van Kempen.

Kasus Tubagus Wardana yang merupakan operator politik sekaligus adik Atut dan novel Max Havelaar dipertautkan oleh setting yang sama: Lebak. Tubagus dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga menyuap Akil agar memenangkan gugatan calon Bupati Lebak Amir Hamzah di MK. Amir adalah proksi dinasti Atut di Lebak agar desain kekuasaan Atut makin sempurna di Banten.

Rabu, 01 Januari 2014

INGIN HARTA DARI KURSI JAWARA


Cerita saudagar kaya di zaman dahulu memberi makna, menggugah semangat untuk hidup kearah yang lebih bersahaja. Masa keemasam para jawara uang dahulu mungkin telah habis dimakan waktu karena zaman kini hadir dengan kerja keras dan kerja cerdas. Dahulu kekayaan itu didapatkan dengan mistik dan mantra, banyak cerita masa lalu yang bisa kita ambil pelajaran. Waktu itu ada cerita aladin pemilik jin dari lampu wasiat, ada juga cerita harun al-rasyid dengan limpahan harta pemilik masa. Ada pula cerita goa penuh limpahan batu mulia symbol qarun pemilik kunci harta, banyak sekali cerita sejarah dengan fiktif dan fakta yang bisa diambil hikmahnya. Ada banyak cerita masa lalu yang salah dimaknai oleh mereka yang menginginkan hidupnya penuh limpahan harta dan tahta.

Di zaman modern ini, persaingan tidak lagi dapat dibedakan antara  baik dan buruk sama halnya dengan fiktif dan fakta. Kebenaran dianggap membingungkan karena pikiran saat ini lebih cenderung dikuasai oleh ketidakbenaran, ungkapan kata tidak lagi sejalan dengan tindakan nyata yang dilakukan karena kebencian dan keserakahan telah mengalahkan kemurnian hati.

Selasa, 25 Juni 2013

BAGAIMANA MENULIS FEATURE


Mengapa kamu menulis? “Karena kebelet!”, kata Putu Wijaya. Mengapa memilih menulis feature? “Karena kebelet, asyik dan fun!”, kata saya sendiri. Bagaimana tidak kebelet menulis kalau kita banyak membaca. Ya! Bagaikan sampah di Leuwigajah di mana kandungan kimianya kemudian meledak. Demikian pula kalau kita banyak membaca buku, majalah, Koran, dan internet pasti ingin meledak. Ledakan itu bisa berupa ngomong, tapi biasanya orang lain nggak mau meluangkan waktu untuk ngedengerin omongan kita.

Kalau menulis kita tingal menulis. Kalau tidak dimuat di media massa ya minimal menulis catatan harian. Siapa yang nyangka catatan harian Soe Hok Gie kemudian dibukukan setelah menjadi best seller bertahun-tahunpun kemudian difilmkan. Juga catatan harian Anne Frank, seorang anak biasa berumur 6 tahun pun kemudian dibukukan dan difilmkan karena menceritakan kekejaman Perang Dunia II.

Atau tulis saja surat atau e-mail. Surat-surat Kartini ternyata dibukukan, surat-menyurat Moh. Roem dan Cak Nur juga dibukukan, surat menyurat Maududi dengan Maryam Jamilah juga dibukukan. Dalam buku Chicken Soup for The Surviving Soul diceritakan ada seorang yang terkena kanker kemudian kakinya harus diamputasi dan dia sering menulis surat kepada teman-temannya dan kepada para ahli kedokteran ternyata kemudian surat-surat itu dibukukan dan menjadi best seller di Amerika Serikat, dan dia menjadi kaya raya.

Sabtu, 19 Januari 2013

Surat Untuk Firman Utina

Berikut adalah isi Surat Untuk Firman Utina yang ditulis oleh seorang Blogger dan juga Sastrawan bernama lengkap Eddri Sumitra:

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

Minggu, 23 Desember 2012

Memahami Proses Demokrasi Papua

Oleh: Karmin Lasuliha

Beberapa jam sudah saya duduk mendengarkan siraman politik yang jauh dari sesuatu mencerahkan ruhani, dalam diskusi itu calo politik menjadi topik utama. Setiap calo merasa menang bahkan ketika berada di tengah kekalahan. basa basi para pengolah kata saat ini adalah menjemput momentum, kata mereka kemenangan bukanlah ketika kandidat yang diusungnya menang melainkan kemenagan itu diperoleh sejauh mana strategi yang dipakai dalam mendapatkan seberapa banyak keuntungan materi.

Teringat dengan cerita kemarin waktu berkunjung ke Kota baru, dikesempatan itu masih saja ada selah untuk pembicaraan politik, bapak-bapak yang merasa diri tidak penting dalam berpolitik seakan menjadi orang cerdas menyinggung busuknya moral politik bangsa....mereka awam tetapi tidak mudah dibodohi, dalam benak sembari mendengarkan " inilah yang menyulitkan kami dilapangan, survey politik seakan menjadi simbol bersenggama untuk mencuri start dari ijab kabul para calon pengantin negeri" semakin sulitnya membujuk pangeran dan permaisuri di tengah golakan pencurian secara berjama'ah, imbas inilah yang sangat tidak menguntungkan karena mereka semakin cerdas menolak di interview dengan aroma politik.

Seharusnya ada perbaikan untuk melihat kembali sucinya perjuangan politik bangsa ini, kita coba menelaah bagaimana lahirnya sebuah perjuangan yang dikatakan Sutan Syahrir atau gerakan demokrasi yang dikatakan Moh. Hatta, perjuangan tulus membentuk indonesia raya yang jauh dari kebisingan pencuri hasil dengungan Komisi Pemberantasan Korupsi. 

lantas saja selalu ada kecurigaan kaum lemah dalam proses pelayanan publik, kehadiran orang-orang untuk membantu mereka terus membentuk paradigma menjadi kembang-kembang lambang 42 partai politik berlogo negatif. uraian kata selalu dilihat sebagai rangkaian kalimat propaganda untuk membenci yang lain. politik negeri memberi kesan negatif untuk pembangunan padahal politik adalah bagian dari pembangunan sebuah peradaban.

Papua dan Demokrasi

sebentar lagi momentum pergolakan demokrasi akan di bentangkan di seantero papua, keyakinan kita sama pastinya akan berakhir dengan saling menelanjangi di meja mahkamah konntitusi, rakyat papua seakan jenuh dengan soal yang sama, keadaan yang kita rasakan sekarang sungguh berbalikan dengan realitas masa-masa yang lampau. kebebasan menjadi polemik kaum marjinal tanpa ujung penyelesaian. kondisi segala bidang di papua semakin semerawut apalagi ketika terjadi disclaimer dalam pertanggungan jawab.

peranan politik telah merasuk jauh mengikis sendi-sendi pengembangan masyarakat papua, baik pendidikan, ekonomi maupun sosial budaya. belajar dari hikayat kebangsaan, bila dulu ada kelas sosial sebagai pembeda sekarang ada kelas ekonomi yang membuat beberapa lembaga pendidikan sebagai utopia atau hanya merupakan masyarakat hipotesis sempurna dengan gambaran teoritis penawaran yang tidak pernah sejalan dengan realitas kebutuhan mereka yang tak berpunya, kata seorang penulis Eddri Sumitra saat ini kelas pekerja terdidik sedang mendominas ibukota. tetapi mereka tidak menawarkan perubahan apapun untuk bangsa ini, sungguh sangat ironi.

pemilihan gubernur papua esok adalah sangsi politik bertopeng mengatasnamakan rakyat dengan realita oligarki sebagai wujud aslinya, mainan spekulasi menggeser makna akan majunya demokrasi. pergeseran zaman tentunya sudah lewat, semua terpaku pada satu lempeng bernama pasar. manivestasinya adalah penawaran dan permintaan. idiologinya adalah uang. lembaga yang menjadi dasar idiologi seperti pendidikan hanya sebagai isi dari pasal-pasal untuk perampokan. dalam momentum esok pendidikan masih menjadi isue utama gairah elektabilitas politik pilgub papua, menjemput kelemahan rakyat dengan misi pendidikan yang lebih terarah dan tak perlu biaya masih terus kontinyu dikampanyekan tetapi dalam pelaksanaannya pendidikan tidak lagi diarahkan untuk menciptakan perubahan tetapi untuk sekedar menyemaikan benih kemapanan. 

hipotesa Nietzsche lebih satu abad silam terjawab sudah. Tugas pendidikan tinggi adalah mengubah manusia menjadi mesin. Caranya adalah dengan belajar bagaimana merasa bosan. semua itu bisa dicapai dengan konsep tugas. Tiap tahun, ribuan sarjana baru dilahirkan untuk bingung. jika anda tidak memiliki uang dan bekingan kuat maka anda jangan bermimpi untuk berpakaian seragam korpri dan memiliki gaji UMP Rp. 1,585,000,- perbulannya.

Papua adalah milik segelintir orang, jika anda merasa rakyat kecil yang tulus ingin berdedikasi tidak perlu berharap banyak terkecuali anda mampu berspekulasi dengan cara apa saja untuk memuaskan birahi mereka  para pemimpin. ini bukan lagi rahasia umum di negeri para pengabdi, ya' anda akan tetap jadi pengabdi jika tak dapat membohongi diri sendiri.

pada akhirnya jika kita ingin meneladani, maka kita cukup meneropong rentang kejadian yang pendek. Gairah "Merdeka atau mati" adalah gairah pembebasan diri. Di india, Gandhi dengan "karega ya marega, berbuat atau mati. Di Amerika, Patria o muerte, tanah air atau mati. merupakan sebuah gairah menciptakan martir, tauladan bagi mereka yang hidup sekaligus energi untuk gagasan pengorbanan diri untuk kebebasan. kampanye para pemimpin baru papua seharusnya meminjam karakter tersebut, sebab tidak adanya karakter martir itulah yang menjadi pangkal masalah kepemimpinan papua saat ini, orasi lantang di perdengarkan bahwa mereka berdiri di semua golongan. tetapi pada hakikatnya mereka bukan hanya sekedar berdiri, tetapi menginjak-injak semua golongan untunk kepentingan pribadi, golongan dan partai politiknya.





Kaum Muda Tanpa Kaum


Kompas di 15 Desember 2007 
Atas nama amanat penderitaan rakyat, mari kita tafakur, berpikir dan berzikir. Juga, atas nama kita sendiri, kaum muda (pergerakan) Indonesia.
Kita tidak perlu dulu berpikir dengan konsep karena itu milik filsuf. Revolusi tidak pernah lahir dari konsep, melainkan dari pamflet, grafiti di tembok-tembok kota, lukisan-lukisan kepal tangan, juga karikatur-karikatur yang membentangkan kesenjangan sosial. “Demokrasi Kita” yang ditulis oleh Bung Syahrir juga berupa pamflet, sebagaimana halnya dengan “Common Sense” citarasa Thomas Paine di Amerika Serikat sana.
Tentu kita juga tidak perlu bertanya tentang dari mana kita mulai. Apakah lewat gerontokrasi, karakter-karakter dinasti politik, oligopoli ekonomi, ataupun hanya sekadar pedagogi hitam di dunia pendidikan. Yang jelas, tempat berpijak yang harus mulai dipikirkan agar kokoh adalah tentang kaum muda itu sendiri. Spesies apakah kaum muda itu? Apakah ia hanya berupa kaum Hobbit dalam Lord of The Rings yang membawa cincin untuk dimusnahkan? Ataukah para kurcaci dalam dongeng putri salju?
Kaum atau perkauman adalah sekumpulan komunitas yang memiliki karakter yang berbeda dengan komunitas yang lain. Ia tidak pernah sama, apalagi serupa, karena latar budayanya memang berbeda, dibentuk oleh pahatan sejarah yang berlainan dan kosmologi pikiran inkoheren. Muda ada pada batasan usia atau spirit yang menonjolkan sikap anti-status quo, kontra-kemapanan dan nihil-kemanjaan.
Pergerakan sendiri memiliki dimensi ombak, bukan karena ada perahu yang lewat atau peselancar bermain di atasnya, melainkan mempunyai energi potensial yang menyebabkan ia terus mengalir.
Garis batas
Dari sini, kaum muda adalah sekumpulan orang yang membentuk komunitas—entah epistemis, ideologis, atau hanya sekadar calo-calo kekuasaan—yang mempunyai kosmologi pikiran yang berbeda dengan kaum tua. Sebagai pergerakan, kaum muda tidak menyukai patung-patung pahlawan yang didatangi oleh para penguasa dalam hening upacara bendera selama lima menit.
Kaum muda yang bergerak juga menantang doktrin-doktrin yang dianggap sebagai kesesatan pikiran, terutama yang diproduksi oleh negara. Dari sini, sebetulnya, kaum muda memiliki musuh yang jelas, yakni negara yang serakah, kepemimpinan absolut, dan pengabaian atas ilmu pengetahuan.
Dan, semakin jelas bahwa kaum muda itu bukanlah orang-orang yang berubah menjadi para pencinta jalan-jalan kenabian sehingga rela diludahi atau dicambuk oleh para pemilik kekuasaan. Kaum muda, karena ia bergerak, adalah orang-orang yang terpukau pada kehidupan. Dengan bentangan usia yang masih lama lagi menghirup udara, dibandingkan dengan kaum tua sesuai dengan tuntutan alamiah, kaum muda memilih jalan kehidupan dan barangkali sebagian (besar) mencintai kehidupan itu sendiri.
Ada garis batas yang jelas tentang ini, yakni kaum muda lebih merasa berhak menentukan masa depan, sementara kaum tua silakan bicara tentang masa lalu. Pertentangan menjadi tidak terelakkan ketika Sukardi Rinakit (Kompas, 04/12/2007) dan Mohamad Sobary (Kompas, 02/12/2007) lebih banyak mendiskusikan masa lalu, sembari menaruh nama Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, atau Tan Malaka, ketimbang Sonny Mumbunan (Kompas, 21/11/2007) yang dingin menatap masa depan.
Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, atau Tan Malaka hanyalah diorama dalam museum-museum sejarah yang daya pikatnya makin mengilat ketika sejarah dan kebudayaan hanyalah warisan dari perilaku kita mengelap-elapnya supaya makin bersinar dan bercahaya.
Sebuah pamflet kaum muda hari ini lebih layak dijadikan acuan ketimbang memberati dengan berton-ton timbunan dokumen-dokumen pikiran yang sebagian besar juga gagal sebagai capaian. Apakah marhaenisme berhasil ketika Soekarno masih menjadi presiden selama 20 tahun? Atau ia hanya berhasil ketika dirumuskan, sebagaimana juga “Demokrasi Kita” Bung Syahrir yang mendasarkan diri kepada humanisme? Barangkali Bung Hatta juga tidak sampai selesai mengembangkan sebuah koperasi, seberhasil Muhammad Yunus menerapkan di bumi Banglades sana. Tan Malaka, ia terobsesi kepada revolusi dan terbunuh karena itu.
Tanpa Jakarta
Lalu, dari mana kita harus memulai? Sekali lagi, apakah kaum muda sudah memiliki kaum? Jangan-jangan yang dimiliki hanyalah auman melengking dalam kandang-kandang besar bernama konsumerisme, hedonisme, gaya hidup, atau jepretan kamera-kamera digital.
Barangkali, kaum muda hanyalah bagian dari kaum muda digital itu yang menilai revolusi hanya sekadar pemberitaan masif di media. Media, dalam zaman ini, hanya alat penampung, medium pemuai, dari segala jenis informasi yang telah dicabik-cabik dan dibingkai sesuai dengan segala jenis paradigma para pekerjanya.
Kaum muda yang memiliki kaum barangkali hanya hadir sesaat, selintas, dalam media yang sebenarnya. Ia menjadi bagian dari representasi sosial masyarakatnya. Ia berlumpur di Sidoarjo, berkoteka di hutan rimba Papua, bermukena di meunasah-meunasah Aceh, serta berselimutkan belerang di kaki-kaki bukit bekas galian.
Di laut-laut ganas mereka hanya berpendidikan sekolah dasar atau tidak tamat sekolah dasar, lebih dari 80 persen, dengan perahu-perahu yang mudah karam. Di desa-desa, mereka berhadapan dengan hama, perubahan iklim, dan para tengkulak. Kaum muda yang berkaum itu tidak lagi sempat membaca koran, melihat televisi, atau mendengarkan radio. Semua itu hanyalah benda-benda mewah hasil kerja para orang tua yang ingin menikmati masa tuanya.
Kaum muda Jakarta bukanlah representasi sosial dari kaum muda seperti itu. Kaum muda Jakarta hanyalah kepala tanpa kaki dan tangan. Kaum muda yang buntung secara sosial. Kaum muda yang tuna sosial. Kaum muda Jakarta adalah kaum muda tanpa keringat. Yang ada hanyalah pikiran tak berakar dan amanat tanpa alamat. Maka, ketika kaum muda Jakarta menciptakan sebuah ikrar, tentu ia ibarat teriakan di sebuah lembah yang terdengar disahuti, padahal memantul sendiri, berkali-kali.
Jadi, tanpa melibatkan kaum muda yang punya kaum, saya sepakat agar diskusi soal kaum muda ini lebih baik diperdengarkan secara berbisik. Tidak perlu diteriakkan, apalagi dianggap sebagai tawaran sebuah perubahan. Saya sudah menjadi saksi—semoga kita tidak lupa—bahwa gerakan mahasiswa 1998 pun bukanlah produk mahasiswa Jakarta, melainkan disampaikan secara bergelombang dari sejumlah mahasiswa yang terluka dan terbunuh di Medan, Lampung, Makassar, atau Yogyakarta.
Benar, kemudian lebih banyak yang terluka dan terbunuh di Jakarta, tetapi yang mengawali tetap sebagai awal, selebihnya menjadi pengawal. Pasukan terbaik Napoleon Bonaparte pun tidak diambil dari kota Paris atau tentara Romawi dari kota Roma, melainkan berasal dari daerah-daerah pinggiran. Kaum muda yang tanpa kaum hanya akan menjadi kue panggang yang tidak matang dalam oven perubahan. ( Indra Jaya Piliang )

Ubah hidup Anda hari ini. Jangan bertaruh pada masa depan, lakukan sekarang, jangan tunda lagi" - Simonede Beauvoir - Peace Papua.com

Ubah hidup Anda hari ini. Jangan bertaruh pada masa depan, lakukan sekarang, jangan tunda lagi" - Simonede Beauvoir - Peace Papua.com

Novel Trengginas ES ITO


anda layak membacanya. jarang ada buku bermutu yang memicu adrenalin, tetapi bukan seputar sex. buka saja http://rahasia-meede.blogspot.com/. aku memberikan komentar atas buku itu:
“Sesuatu yang hanya jadi fakta sejarah sebuah bangsa, akan tampak seperti huruf, angka dan peristiwa yang mati. Tanpa makna. Tak bergerak. Membutakan mata. Menghidupkan kembali fakta itu lewat imajinasi yang disusun rapi dan sistematis diiringi gairah dan pesona, serta kejutan adalah bagian dari upaya memperlambat kematian sebuah bangsa. E.S. ITO si peneruka hulu sejarah dan laju zaman, telah mencatatkan diri sebagai novelis tambo modern republik Indonesia, justru ketika elite bangsa ini sibuk dengan kepikunan kolektif: berputar-berputar pada kekinian dan kedisinian…”
itu kukirim via sms, sebelum aku menyelesaikan membaca buku. dalam perjalanan ke Papua, aku memutuskan hanya membaca satu buku itu, agar aku tuntas membacanya. karena ketebalannya, justru aku menamatkan membacanya setelah pulang dari Papua, sebelum tidur. aku berangkat ke Papua Senin (20/8) dan sampai kembali di Jakarta Rabu (22/8). memang singkat, mengingat materi gugatanku harus segera masuk ke pengadilan.
ada banyak hal baru yang harus kukomentari. karena buku ini jelas sekali pembelaannya atas suku-suku pedalaman, suku-suku asli, jauh sebelum Indonesia ada dan kolonialisme datang. Es Ito memberikan penghormatan yang layak atas suku-suku itu: Nias, Mentawai, Dayak, Suku Anak Dalam, dll. soal Sikerei, aku ingat betul, betapa “dukun” suku Mentawai itu berjasa besar dalam menyembuhkan tangan kiriku yang patah ketika kecil, dulu. ayah dan ibuku tidak sempat membawaku ke Padang, karena laut sedang mengganas. karena itu, seorang Sikerei dipanggil, mengobati dan menyembuhkan tangan kiriku. tentu, Sikerei itu merupakan perantara kesembuhan saja dari Allah SWT, sesuai ajaran agamaku.
sampai SMA, aku masih minder dengan tangan kiriku. di sekolah, aku dipanggil si Cengkok, orang yang tangannya tidak lurus. walau masuk paskibraka sekolah dan regu gerak jalan SMA, serta masuk pramuka, tetap saja julukan si Cengkok tidak hilang. Pariaman memang terkenal dengan cemooh-nya. semua orang dipanggil berdasarkan keabnormalannya. kini, aku tidak ada dalam posisi itu. yang kuingat, ada sentuhan Sikerei pada tanganku, dan itu menyembuhkan. apa yang ditulis Es ITO dalam bukunya membuatku menangis. ak tidak tahu lagi sekarang bagaimana nasib suku-suku itu yang dulu kuingat datang dengan buah kelapa, cempedak, durian, dllnya dalam satu perahu, lantas tinggal ditukar dengan beberapa kilogram gula atau produk luar lainnya.
ayahku dulu pernah diberi tanah oleh Sikerei sahabatnya yang setia membelany. kebon cengkeh yang luas, dari pinggir pantai sampai atas bukit. tapi ayahku menolaknya. kadang, ayah menceritakan itu dengan tertawa: “kalian bisa kaya dengan hanya memetik cengkehnya (tanpa mengambil tanahnya).” waktu di Mentawai, aku sering memetik buah cengkeh, dan kami biasa memanjat pucuk-pucuk teratas untuk mendapatkan cengkeh yang bulat (cengkeh bibit).
aku masuk TK di Mentawai. belajar pada orang-orang Philipina. banyak orang asing ke Mentawai, barangkali untuk mendapatkan pohon-pohonnya atau nilai eksotisnya. pertengahan tahun 1970-an, bayangkan. sentuhan peradaban belum banyak masuk. sebagai anak pulau, aku suka berenang, memancing ikan, mencari umang-umang, berburu kepiting…lautan kepiting kecil dan besar di pinggir pantai.
buku ES ITO ini seakan mewajibkan aku untuk kembali kesana. mungkin, untuk menangisinya. dari berita yang kudapatkan, tentu Mentawai masa kecilku tidak akan kembali, sebagaimana kampung masa kecilku. orang menyebut ini kemajuan/modernisme. aku menyebutnya pemusnahan.
ES Ito juga menceritakan kawasan yang kuhuni sejak tahun 1991: kawasan Kota. kawasan yang pertama kali kukenal, karena dulu pertama kali menetap di dekat Museum Fatahillah, tepatnya di pinggir sungai di Jl Kunir yang sudah digusur. disana, bersama kakak-kakakku berjualan Sate Padang. juga kawasan Mangga Besar, Pecah Kulit, dll. sekarang, aku tinggal di rumah mertua: Jl Talib III, juga kawasan Kota. sudah hampir 16 tahun aku mengakrabi kawasan Kota ini, termasuk stasiun-stasiun kereta apinya, lorong-lorongnya, dan … kehidupannya.
tentu, cerita yang ditulis Es Ito tentang Pecah Kulit dllnya itu sudah bagian dari mitologi masyarakat setempat, terutama orang-orang tuanya. Ito menjadikannya sebagai novel yang indah, menarik dan galant. novel yang trengginas.
juga ada cerita tentang Papua. jangan lupa, To, di Papua juga banyak mitos. hampir semua suku dari 314 suku di Papua memiliki mitosnya sendiri-sendiri. sudah lebih lima tahun aku bersentuhan dengan masalah-masalah Papua, semakin tenggelam kisah-kisah hebat di masa lalu yang teramat dekat itu. aku bersaksi: jangan sampai Papua hilang ditelan gelombang zaman. di harian Seputar Indonesia kemaren (27/08), dalam tulisan Selamat Datang Mendagri Baru, kusisipkan kalimat berikut: “Daerah yang paling banyak diincar sekarang adalah Papua, terutama oleh kekuatan modal. Isu-isu yang berhembus dari Papua dan kekuatan yang akan datang ke Papua akan meningkat terus, seiring dengan habisnya sumberdaya alam dan ekonomi di Kalimantan dan Sumatera.”
ada banyak misteri lain yang diceritakan Es Ito dalam novelnya ini. sekali lagi, aku merekomendasikan untuk anda. ya, anda bisa saja menyebut CSA=CSIS, atau sosok-sosok yang dia ciptakan. anda bisa juga mereka-reka, tentang nama-nama yang dia tulis. beruntung aku mengenali anak ini, karena dia juga bekerja di Yayasan Harkat Bangsa Indonesia, dimana aku didaulat sebagai Direktur Eksekutif-nya. mudah-mudahan, tidak lama lagi, aku bisa meninggalkan jabatan itu dan menikmati lagi novel-novel ES ITO berikutnya..
YHB Indonesia, 28 Agustus 2007, 20:20…

Surat Kedua


Ambillah kayu kering, bakar di balik semak dan perdu. Ubi ditusuk sate, dekatkan ke perapian. Hangus merasuk hidung, terasa gurih walaupun pahit di pangkal lidah.
Apakah petani masih merayakan kesederhanaan saat ini. Sementara kapitalisme meratakan manusia dalam keinginan yang sama akan barang-barang konsumsi. Arus budaya manusia digerakkan oleh produksi benda-benda, bukan lagi interaksi antara sesama. Agaknya kita melupakan esensi kehidupan, bahwa perbedaan menjaga keseimbangan alam. Derita lebih sering muncul karena persamaan bukan perbedaan. Untuk keinginan yang sama, manusia saling meniadakan

Ubah hidup Anda hari ini. Jangan bertaruh pada masa depan, lakukan sekarang, jangan tunda lagi" - Simonede Beauvoir




Seseorang akan sulit berhasil jika ia suka menunda-nunda pekerjaan. Tapi saya yakin Anda bukanlah orang yang demikian.
Laksamana Laut Amerika, Willian Halsey mengatakan, "Segala masalah akan menjadi lebih kecil jika Anda tidak menghindarinya, tetapi menghadapinya."  

Selasa, 11 Desember 2012

Keindonesiaan Dalam Perspektif Papua


Fadhal Alhamid, pemuda Papua yang menjadi pembicara pertama dalam Dialog Nasional Pemuda bertajuk“Menyoal Identitas Kebudayaan Indonesia”, 20 Mei 2010, di Jakarta, terkait dengan penjajahan belanda dalam perspektif indonesia, kata Fadhal bahwa Belanda tidak melakukan praktek penjajahan di tanah Papua. Alih-alih merusak atau membunuh, Belanda justru menggelar pendidikan dan juga pembangunan bagi masyarakat Papua.
Terkadang, kata Fadhal dalam acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional tersebut, ketika orang kecewa dengan pemerintah Indonesia, orang kemudian bernostalgia dengan zaman Belanda yang dianggap baik, termasuk soal pendidikan.
“Kalau ajar membaca… ‘ini api, api menyala, babi lari’. Sesuatu yang kemudian mengakar dalam realita. Sekarang, ‘ini pak madi, pak madi ke sawah’. Siapa pak madi? Sawah mana? Orang papua tidak kenal sawah. Orang papua kenal hutan sagu.”
Terlepas dari perbedaan sejarah, kebudayaan, dan ras dengan kebanyakan negeri-negeri di Indonesia, Fadhal berharap Papua dapat diterima dalam keragaman Indonesia. Papua semestinya diberi ruang untuk turut membentuk dan mewarnai identitas keindonesiaan.
Namun, persoalannya tidak mudah. Dalam berbagai iklan yang setiap hari tayang di ruang-ruang media massa, apa yang disebut cantik itu adalah orang yang berambut lurus dan berkulit putih. Dan kriteria itu membuat orang Papua, di tanahnya sendiri, sulit untuk mengisi posisi-posisi tersebut di pasar, seperti bank atau supermarket.
Fadhal Alhamid: Keindonesiaan Dalam Perspektif Papua. Foto: Redaksi.
Bahkan, ketika ada kontes putri kecantikan yang dibuat oleh kelompok Dharma Wanita di Papua, putri-putri (suku) Dani diajak untuk menjadi putri Jawa, yakni dengan memakaikan sanggul dan kebaya pada tubuhnya. Padahal, perspektif kecantikan bagi orang (suku) Dani bukan itu.
“Perempuan yang cantik itu yang tangannya kuat. Kepalanya kuat untuk memanggul itu noken. Dia orang yang pandai mengurus kebun, pandai mengurus anak, pandai mengurus babi. Itulah perempuan Papua, perempuan Dani yang cantik.
Fadhal juga mencatat persoalan militerisme di papua. Menurutnya, pemerintah dan militer Indonesia lebih merasa terganggu ketika bendera bintang kejora berkibar ketimbang sekolah dan layanan kesehatan tidak berfungsi. Nasionalisme Indonesia hanya hadir dalam bentuk pos-pos militer dan bendera merah putih.
Kalau ada yang menaikkan bendera Bintang Kejora, pemerintah dan militer Indonesia tidak pernah menanyakan kenapa bendera tersebut dinaikkan. Kalau ada yang menaikkan bendera, maka tindakan keras langsung diambil: tangkap, adili, penjara.
“Padahal kalau ada yang kasih naik itu bendera, itu bisa saja karena anaknya tidak lolos itu pegawai negeri, gajinya sekian bulan tidak dibayar, atau karena hutannya dirampas,” kata Fadhal
Dia juga membandingkan sistim pendidikan yang sampai saat ini tidak terbenahi seperti UU BHP " masa ketika ujian nasional anak - anak Papua di pedalaman harus mengisi soal yang sama dengan anak-anak yang ada di Cikini Jakarta Pusat", di pedalaman Papua yang sekolahnya tidak memiliki pengajar harus dipaksakan setara menjawab soal yang sama dengan anak-anak jakarta.

Selasa, 04 Desember 2012

Konstitusionalitas Pemilu Ala Adat


Oleh Andi Syafrani
Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perselisihan hasil Pemilu Kabupaten Dogyai,Papua,barubaru ini,memberikan perspektif baru mengenai hukum adat dalam sistem Pemilu.
Putusan dengan Nomor Registrasi Perkara 3/PHPU.D-XII/2012 bertanggal 16 Februari 2012 telah membuat norma baru yang sangat penting dan menarik dalam praktik pemilu,khususnya praktik metode pemilihan kepala daerah. Ada dua hal penting yang patut dicatat terkait dengan putusan MK tersebut yang berimplikasi secara yuridis. Pertama, putusan MK tersebut secara tegas dan jelas menerima mekanisme pemilihan secara perwakilan aklamasi ala adat (yang di Dogiyai disebut mekanisme Pemilihan Noken) sebagai cara yang sah, konstitusional, dan tidak bertentangan dengan mekanisme pemilihan ala one man one vote yang sudah diterapkan sejak pemilihan presiden secara langsung pada 2004 dan pilkada sejak 2005.
Kedua, karena itu, putusan MK tersebut menjadi yurisprudensi bagi setiap model pemilihan secara adat dalam sistem pemilu Indonesia,baik dalam pemilu legislatif maupun eksekutif di setiap

Minggu, 25 November 2012

Bagaimana Menulis Feature


Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Dmaestro Edisi Oktober 2004
Haji Agus Salim: Guru para pemuda, ulama, dan diplomat Indonesia
            
Membicarakan Haji Agus Salim sangat aktual bulan Oktober ini. Dia lahir bulan Oktober, dia gurunya para pemuda di Jong Islamieten Bond yang ikut Sumpah Pemuda bulan Oktober 1928, bulan Oktober tahun ini juga dimulai bulan Ramadhan dan Agus Salim adalah seorang ulama dan guru para ulama di Indonesia. Dua bulan yang lalu (Agustus 2004) juga baru terbit buku “Pidato Perpisahan Haji Agus Salim (sebelum meninggal) di Cornell University Amerika Serikat”. Buku itu diterbitkan oleh Pusat Kajian Indonesia di Cornell University Amerika Serikat. Bulan Oktober ini juga kita akan mengetahui siapa pemimpin Republik Indonesia, teladan kepemimpinan juga bias kita ambil dari Agus Salim yang tidak mementingkan golongannya. And The Story Begin:
Dalam sebuah rapat umum ada suara mengembik dari massa yang salah seorangnya adalah Sutan Syahrir, “Embeeek-Embeeeek” (mengejek Haji Agus Salim yang berjenggot dan diibaratkan seperti kambing oleh yang mengejeknya).
“Bismillahir Rahmanir Rahim”, kata Agus Salim.
“Mbeeek.. Mbeeek..” seru suara dari massa.
“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, Agus Salim membuka pembicaraan.
“Mbeeek… Mbeeeeek….”, seru massa lagi.
Agus Salim menjawab dgn cerdas, “Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambingpun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya saying sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan untuk sementara kambing-kambing dibawa ke luar untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini, yang ditujukan kepada manusia selesai, kambing-kambing akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam bagi kambingpun ada amanatnya. Dan saya menguasai banyak bahasa”.
Suatu jawaban yang cerdas dan diplomatis. Ya Agus Salim memang cerdas, menguasai banyak bahasa dan gurunya para diplomat Indonesia sejak zaman Belanda sampai awal kemerdekaan Indonesia.
Haji Agus Salim dikenal sebagai seorang ulama, diplomat, dan penulis hebat di Indonesia. Pengetahuannya yang luas mengenai agama Islam, dipadu dengan intelektualitas, kesederhanaan, serta kematangan berpolitik menjadikannya salah satu tokoh terkenal pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketaatannya pada ajaran agama Islam tidak mengekang jiwanya yang bebas mendengarkan suara hati nuraninya, baik dalam kiprah politiknya maupun dalam kehidupan pribadinya. Ia tokoh pembaharu Islam dan pembawa kemajuan. Hal ini terlihat ketika ia membuka tabir pemisah dalam pengajian yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Ia ingin wanita dan laki-laki setara kedudukannya. Iapun tidak memaksakan agama Islam untuk menjadi agama resmi ataupun agama yang mendominasi bangsa Indonesia. Ini terlihat ketika ia menyetujui usul Mohammad Hatta untuk menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta yaitu “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Hal yang sering dilupakan ketika kita membicarakan sejarah Indonesia adalah fakta bahwa ketika usia 41 tahun (yaitu tahun 1925) Haji Agus Salim membentuk dan menjadi penasehat Jong Islamieten Bond, tempat berkumpulnya anak-anak muda intelektual muslim yang kemudian mayoritas bergabung dalam Partai Masyumi, suatu partai moralis pembela demokrasi (Ada juga yang bergabung dalam PSI yaitu Mr. Hamid Algadri). Para intelektual muda muslim ini adalah di antaranya Mohammad Roem, Mohammad Natsir, Buya Hamka, A.R. Baswedan. Buya Hamka nantinya menjadi guru Cak Nur, Azyumardi Azra, Ruydi Hamka, dan Fachry Ali. Mohammad Natsir menjadi guru Cak Nur, Yusril Ihza Mahendra, Amien Rais, Didin Hafiduddin, Imaduddin Abdul Rahim, dan Deliar Noer. Mohammad Roem menjadi guru Cak Nur dan Adi Sasono. Jadi Agus Salim menjadi akar iilmuwan, pemikir, pendidik, dan politisi Indonesia.
Anggota-anggota Jong Islamieten Bond ini juga pada tahun 1928 mengikuti Kongres Pemoeda II yang menelurkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Agus Salim selain menjadi menteri luar negeri setelah Indonesia merdeka ia juga menjadi penasehat semua Menteri luar negeri sampai akhir hayatnya tahun 1954. Sejak Sutan Syahrir, Mohammad Roem, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan lain-lain. Jadi ia bukan saja guru intelektual Muslim Indonesia tetapi juga guru para diplomat Indonesia dan peletak dasar diplomasi kementrian luar negeri Republik Indonesia.
Ia juga seorang yang anti sekolah (terutama sekolah Belanda). Dari kesebelas anaknya tidak ada yang menempuh pendidikan sekolah kecuali yang bungsu, itupun setelah Indonesia merdeka dan langsung masuk SMP tidak sekolah SD. Tetapi kecerdasan semua anaknya itu dikagumi dan diakui walaupun mereka tidak sekolah. Agus Salim mendidik sendiri semua anaknya itu.
Agus Salim yang lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Bukit Tinggi Sumatra Barat dan keturunan jaksa wilayah ini memang seorang yang cerdas. Mungkin ada faktor genetik juga dari ayahnya yang jaksa dan kakeknya yang ulama serta keluarga ibunya yang ulama.
Ketika Salim lulus dari HBS (Hogere Burgerschool, setingkat SMA) ia menjadi lulusan HBS terbaik di seluruh Indonesia. Hal ini menyebabkan R.A. Kartini mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk mengalihkan bea-siswa untuk dirinya (tetapi dihalangi orangtua Kartini) agar diberikan kepada Agus Salim saja untuk melanjutkan ke sekolah kedokteran di Belanda. Tapi pemerintah Belanda tidak mengabulkannya.
Tapi memang di balik semua musibah ada hikmah. Haji Agus Salim di kemudian hari bersyukur tidak jadi menerima bea-siswa kedokteran. “Kalau saya menerima bea-siswa kedokteran belom tentu saya menjadi tokoh pergerakan dan pejuang Indonesia merdeka”, katanya di Cornell University, Amerika Serikat.
Haji Agus Salim juga jenius di bidang Bahasa. Ia menguasai Bahasa Belanda, Inggris, Arab, Perancis, Jerman, Turki, dan Jepang. Wajar saja kalau ia menjadi filosof sekaligus Mbah-nya para diplomat Indonesia. Memang tokoh yang luar biasa. Akankah Indonesia melahirkan orang besar seperti ini lagi? Mari kita bertanya saja pada rumput yang bergoyang!
(Agung Pribadi)
Sejarawan, Peneliti pada Yayasan Harkat Bangsa.

Selalu Ada Hikmah dibalik Masalah



Sabtu, 24 November 2012

Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani

Seorang professor berdiri di depan 
kelas filsafat dan mempunyai
beberapa barang di depan mejanya.

Saat kelas dimulai, tanpa
mengucapkan sepatah kata, dia
mengambil sebuah toples mayones
kosong yang besar dan mulai mengisi
dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para
muridnya, apakah toples itu sudah
penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak
batu koral dan menuangkannya ke
dalam toples. Dia mengguncang dengan 
ringan. Batu-batu koral masuk,
mengisi tempat yang kosong di antara 
bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para
muridnya, Apakah toples itu sudah
penuh? Mereka setuju bahwa toples 
itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil
sekotak pasir dan menebarkan ke
dalam toples...

Tentu saja pasir itu menutup segala 
sesuatunya. Profesor sekali lagi 
bertanya apakah toples sudah penuh? 

Para murid dengan suara bulat 
berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua
cangkir kopi dari bawah meja dan 
menuangkan isinya ke dalam toples, 
dan secara efektif mengisi ruangan 
kosong di antara pasir.

Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika
suara tawa mereda, "Saya ingin
kalian memahami bahwa toples ini
mewakili kehidupanmu.
"

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang
penting - Tuhan, keluarga, anak-anak,
kesehatan, teman dan para
sahabat. Jika segala sesuatu hilang
dan hanya tinggal mereka, maka
hidupmu masih tetap penuh.


"Batu-batu koral adalah segala hal
lain, seperti pekerjaanmu, rumah
dan mobil.
"

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya
- hal-hal yg sepele.
"

"Jika kalian pertama kali memasukkan
pasir ke dalam toples,
"  lanjut 
profesor, "Maka tidak akan tersisa
ruangan untuk batu koral ataupun
untuk bola-bola golf. Hal yang sama
akan terjadi dalam hidupmu
."

"Jika kalian menghabiskan energi
untuk hal-hal sepele, kalian tidak
akan mempunyai ruang untuk hal-hal
yang penting buat kalian
"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal
yang kritis untuk kebahagiaanmu.
Bermainlah dengan anak-anakmu.
Luangkan waktu untuk check up
kesehatan.
 

Ajak pasanganmu untuk keluar makan
malam. Akan selalu ada waktu untuk
membersihkan rumah, dan memperbaiki
mobil atau perabotan.
"

"Berikan perhatian terlebih dahulu
kepada bola-bola golf - Hal-hal
yang benar-benar penting. Atur
prioritasmu. Baru yang terakhir,
urus pasir-nya
."

Salah satu murid mengangkat tangan
dan bertanya, "Kalau Kopi yg
dituangkan tadi mewakili apa?"

Profesor tersenyum, "Saya senang
kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan
kepada kalian, sekalipun hidupmu
tampak sudah begitu penuh, tetap
selalu tersedia tempat untuk
secangkir kopi bersama sahabat"
 :-)

Jumat, 23 November 2012

Belajar Desain WEBSITE Gratis dari Relawan TIK Papua




Anda tentunya ingin bersaing di kancah internasional, langkah pertama untuk mengawalinya..anda harus menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi, hal tersebut tentu tidak dapat di anggap remeh karena belajar pastinya membutuhkan kemauan dari dalam diri masing-masing orang

Pada kesempatan ini mewakili komunitas Relawan TIK Papua, kami memberikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Papua khususnya di Jayapura yang ingin mendefinisikan loyalitasnya untuk belajar, tidak memandang berapa usia anda karena kebutuhan teknologi merupakan bagian penting untuk kita dapat bersinergi dengan lajunya peradaban yang kian hari kian modern.

Relawan TIK Papua pada setiap hari minggu jam 15:00 WP mengadakan pelatihan ( kursus ) Gratis untuk pembelajaran pembuatan WEBSITE bertempat di Kampus STIKOM Muhammadiyah Jayapura.

Surat Sahabat untuk di Renungkan


Hubungan kerja, bisnis,
kepemimpinan dan tentu saja cinta
dibangun atas dasar kepercayaan.
Tanpa itu, sebuah hubungan tak akan
berjalan, sebuah organisasi pun akan
kacau.

Bayangkan jika Anda berada dalam
sebuah lingkungan, hubungan atau
organisasi tanpa kepercayaan, para
pekerjanya saling curiga satu sama
lain dan para atasannya berusaha
mempertahankan posisinya
masing-masing dengan segala cara.
Organisasi seperti itu sangat rapuh
dan tinggal menunggu waktu untuk
hancur.

sebagai seorang pemimpin, Anda
harus menginvestasikan banyak waktu
untuk membangun kepercayaan dari
bawahan atau pengikut Anda.

Kepercayaan itu sebenarnya dibangun
atas fondasi sederhana. Jalanilah
kehidupan dengan penuh integritas dan
hormati orang lain. Konsistensi dalam
kata dan perbuatan. Melakukan dan
menepati apa yang Anda katakan pada
orang lain.

Sebelum Anda mengharapkan orang lain
percaya pada Anda, sebagai pemimpin
Anda harus percaya dahulu pada orang
lain. Delegasikan kewenangan Anda
pada mereka. Mereka pun akan merasa
dipercaya atas kemampuan mereka.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk
membangun kepercayaan dan hanya butuh
waktu beberapa detik untuk
menghancurkannya. Belajarlah
mempercayai, belajarlah untuk jadi
orang yang dipercaya.

Salam hangat selalu dari sahabatmu,


Kamis, 22 November 2012

Mencari Pemimpin yang Beretika


Sepak terjang para politisi di negeri ini membuat banyak orang muak. Politik telah identik dengan kekotoran, penuh tipu muslihat, dan tidak manusiawi. Saling menyikut dan menjegal merupakan kemestian, bahkan kepada teman sendiri. Korupsi merajalela, hingga ke batas yang membuat banyak orang tak lagi percaya bahwa masih ada kejujuran di dunia politik. Ini sejalan dengan ungkapan Lord Acton bahwa “power tends to corrupt”, yang memberi gambaran bagaimana kekuasaan itu cenderung diselewengkan, disalahgunakan, serta dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu.
Padahal, politik seharusnya menggunakan etika. Etika dan politik seharusnya berjalan seiring, karena keduanya menjadi penentu kebahagiaan hidup umat manusia. Immanuel Kant menegaskan bahwa meskipun harus cerdik seperti ular, seorang politisi juga harus tulus seperti merpati. Pada akhirnya merpati yang akan menang, karena dia tidak pernah bisa beristirahat sedetik pun disebabkan matanya yang selalu awas terhadap kehadiran ular.
Sayangnya, di negeri ini, sisi merpati dari para politisi sepertinya sudah lenyap. Rakyat menyaksikan bahwa pemimpin negara ini masih gamang terhadap posisinya sebagai presiden atau sebagai pembina partai. Pemimpin kita justru tidak ada di tempat ketika ada kasus-kasus yang menurut akal sehat masyarakat, seharusnya butuh intervensi langsung presiden. Misalnya, dalam kasus TKI yang telah mencoreng kehormatan bangsa, kasus pelanggaran kedaulatan negara yang berkali-kali dilakukan Malaysia, kasus-kasus korupsi yang tak jua tuntas, atau kasus penguasaan pihak asing atas kekayaan negara. Sebaliknya, sang pemimpin malah sering melakukan jumpa pers mendadak untuk kasus-kasus yang menerpa dirinya, keluarganya, dan partainya. Bahkan, membalas surat seorang tersangka koruptor sepertinya dianggap lebih penting dibanding menjawab keluhan warga korban Lapindo dengan tindakan yang nyata.
Di sinilah etika politik memainkan peranannya. Politisi yang beretika akan mampu memilah, mana urusan yang seharusnya menjadi prioritas, mana yang tidak. Etika ini perlu ditegaskan dan diatur dalam bentuk undang-undang. Undang-Undang kepartaian atau pejabat pemerintah sudah selayaknya ditinjau ulang. Para pejabat pemerintah dari pusat hingga daerah—terutama presiden— mesti melepaskan atribut kepartaiannya secara formal maupun moral, demi menjadikan mereka lebih netral dalam mengurus negara, agar tidak terjadi konflik kepentingan di antara keduanya.
Jika etika politik tidak diatur secara formal, semua politisi akan beretika semaunya sendiri. Akibatnya, kita melihat hari ini bahwa partai politik yang semestinya bisa menjadi pilar demokrasi, justru menjadi bagian dari kekuatan negara, kekuatan pasar, dan ajang perebutan kekuasaan. Bahkan, saya berpendapat bahwa sistem kepartaian sebaiknya dibubarkan karena malah bisa memberikan kesempatan lebih bagi orangorang yang memang layak mengurus negara.
Kita bisa mencontoh Iran sebagai negara yang tidak mengenal sistem kepartaian. Meski tanpa partai, terbukti Iran justru mampu menyelenggarakan pemilu yang lebih demokratis. Pilpres Iran pada tahun 2005 menunjukkan cukup tingginya tingkat partisipasi politik rakyat, karena diikuti oleh sekitar 65 persen dari mereka yang memiliki hak pilih. Lebih tinggi dibanding Pilpres Amerika Serikat (Nopember 2004), yang hanya diikuti sekitar 50 persen pemilik hak suara.
Bahkan Kementrian Dalam Negeri Iran, yang bertanggung jawab atas berlangsungnya Pilpres tersebut, harus memperpanjang batas waktu pencoblosan hingga dua kali karena massa masih membeludak.
Pakar politik yang telah lebih dari 40 tahun menetap di Amerika, Prof. Hamid Maulana, menyatakan bahwa demokrasi yang terjadi di Iran merupakan demokrasi yang memenuhi syarat dari sudut pandang demokrasi apa pun. Pada batas minimal, seluruh mazhab demokrasi menyepakati tiga asas demokrasi, yaitu peran masyarakat, partisipasi, dan keberagaman. Tiga asas ini kenyataannya terpenuhi dalam pesta demokrasi di Iran tersebut.
Hal ini terulang lagi pada pemilu 2009, di mana 85 persen warga Iran pemegang hak suara berpartisipasi di dalamnya. Sebuah capaian yang tampaknya belum pernah diperoleh dalam pesta demokrasi di negara-negara lainnya, termasuk di Barat. Ini menunjukkan bahwa sistem kepartaian pada dasarnya bukan penentu kedemokratisan tatanan pemerintahan.
Selain itu, dalam pandangan politik Islam, para pemikir terdahulu—seperti Al-Mawardi, Al-Farabi, Al-Ghazali, dan sebagainya—telah menekankan bahwa seorang pemimpin itu sejatinya memegang amanat Tuhan. Amanat rakyat pada dasarnya merupakan bagian dari amanat Tuhan.
Ada sebuah kisah menarik. Saat menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib pernah didatangi oleh saudara kandungnya, Aqil, yang memohon kepadanya agar diberi sedikit uang dari baitul maal demi memenuhi kebutuhan hidupnya dikarenakan keuangannya yang sedang bermasalah. Mendengar itu, Ali segera mengambil sepotong besi membara dan mendekatkannya ke tangan Aqil. Seketika Aqil berteriak kesakitan disebabkan hawa panas dari besi tersebut dan segera menarik tangannya. Ali kemudian berkata, “Baru dengan hawa sepotong besi membara saja kau sudah kesakitan, bagaimana mungkin kau berani memerintahkanku untuk masuk ke dalam neraka dengan memberimu uang negara.”
Baitul maal adalah lembaga yang mengurusi segala pemasukan dan pengeluaran keuangan negara. Pemimpin negara jelas bertanggung jawab penuh agar penggunaan uang negara benarbenar untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi. Bila pemimpin negara melanggar hal ini, azab Allah akan menantinya kelak di Hari Akhir. Ketika kita memandang bahwa jabatan politik adalah sebuah amanah dari Allah, maka sudah tentu, etika berpolitik pun harus berada dalam koridor nilai-nilai ke-Islaman. Dan kita sebagai rakyat hendaknya mampu memilih mana politisi yang beretika dan layak untuk kita beri dukungan dalam memimpin negara ini.
*Penulis adalah kandidat doktor bidang Pemikiran Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta