Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Dmaestro Edisi
Oktober 2004
Haji Agus
Salim: Guru para pemuda, ulama, dan diplomat Indonesia
Membicarakan
Haji Agus Salim sangat aktual bulan Oktober ini. Dia lahir bulan Oktober, dia
gurunya para pemuda di Jong Islamieten Bond yang ikut Sumpah Pemuda bulan
Oktober 1928, bulan Oktober tahun ini juga dimulai bulan Ramadhan dan Agus
Salim adalah seorang ulama dan guru para ulama di Indonesia. Dua bulan yang
lalu (Agustus 2004) juga baru terbit buku “Pidato Perpisahan Haji Agus Salim
(sebelum meninggal) di Cornell University Amerika Serikat”. Buku itu
diterbitkan oleh Pusat Kajian Indonesia di Cornell University Amerika Serikat.
Bulan Oktober ini juga kita akan mengetahui siapa pemimpin Republik Indonesia,
teladan kepemimpinan juga bias kita ambil dari Agus Salim yang tidak
mementingkan golongannya. And The Story Begin:
Dalam
sebuah rapat umum ada suara mengembik dari massa yang salah seorangnya adalah
Sutan Syahrir, “Embeeek-Embeeeek” (mengejek Haji Agus Salim yang berjenggot dan
diibaratkan seperti kambing oleh yang mengejeknya).
“Bismillahir
Rahmanir Rahim”, kata Agus Salim.
“Mbeeek..
Mbeeek..” seru suara dari massa.
“Assalamu
‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, Agus Salim membuka pembicaraan.
“Mbeeek…
Mbeeeeek….”, seru massa lagi.
Agus
Salim menjawab dgn cerdas, “Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat
menyenangkan bahwa kambing-kambingpun telah mendatangi ruangan ini untuk
mendengarkan pidato saya. Hanya saying sekali bahwa mereka kurang mengerti
bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi
saya sarankan untuk sementara kambing-kambing dibawa ke luar untuk sekadar
makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini, yang ditujukan kepada
manusia selesai, kambing-kambing akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan
berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena di dalam agama Islam
bagi kambingpun ada amanatnya. Dan saya menguasai banyak bahasa”.
Suatu
jawaban yang cerdas dan diplomatis. Ya Agus Salim memang cerdas, menguasai
banyak bahasa dan gurunya para diplomat Indonesia sejak zaman Belanda sampai
awal kemerdekaan Indonesia.
Haji
Agus Salim dikenal sebagai seorang ulama, diplomat, dan penulis hebat di
Indonesia. Pengetahuannya yang luas mengenai agama Islam, dipadu dengan
intelektualitas, kesederhanaan, serta kematangan berpolitik menjadikannya salah
satu tokoh terkenal pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketaatannya
pada ajaran agama Islam tidak mengekang jiwanya yang bebas mendengarkan suara
hati nuraninya, baik dalam kiprah politiknya maupun dalam kehidupan pribadinya.
Ia tokoh pembaharu Islam dan pembawa kemajuan. Hal ini terlihat ketika ia
membuka tabir pemisah dalam pengajian yang memisahkan laki-laki dan perempuan.
Ia ingin wanita dan laki-laki setara kedudukannya. Iapun tidak memaksakan agama
Islam untuk menjadi agama resmi ataupun agama yang mendominasi bangsa
Indonesia. Ini terlihat ketika ia menyetujui usul Mohammad Hatta untuk
menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta yaitu “Dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Hal
yang sering dilupakan ketika kita membicarakan sejarah Indonesia adalah fakta
bahwa ketika usia 41 tahun (yaitu tahun 1925) Haji Agus Salim membentuk dan
menjadi penasehat Jong Islamieten Bond, tempat berkumpulnya anak-anak muda
intelektual muslim yang kemudian mayoritas bergabung dalam Partai Masyumi,
suatu partai moralis pembela demokrasi (Ada juga yang bergabung dalam PSI yaitu
Mr. Hamid Algadri). Para intelektual muda muslim ini adalah di antaranya
Mohammad Roem, Mohammad Natsir, Buya Hamka, A.R. Baswedan. Buya Hamka nantinya
menjadi guru Cak Nur, Azyumardi Azra, Ruydi Hamka, dan Fachry Ali. Mohammad
Natsir menjadi guru Cak Nur, Yusril Ihza Mahendra, Amien Rais, Didin
Hafiduddin, Imaduddin Abdul Rahim, dan Deliar Noer. Mohammad Roem menjadi guru
Cak Nur dan Adi Sasono. Jadi Agus Salim menjadi akar iilmuwan, pemikir,
pendidik, dan politisi Indonesia.
Anggota-anggota
Jong Islamieten Bond ini juga pada tahun 1928 mengikuti Kongres Pemoeda II yang
menelurkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Agus
Salim selain menjadi menteri luar negeri setelah Indonesia merdeka ia juga
menjadi penasehat semua Menteri luar negeri sampai akhir hayatnya tahun 1954.
Sejak Sutan Syahrir, Mohammad Roem, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan
lain-lain. Jadi ia bukan saja guru intelektual Muslim Indonesia tetapi juga
guru para diplomat Indonesia dan peletak dasar diplomasi kementrian luar negeri
Republik Indonesia.
Ia
juga seorang yang anti sekolah (terutama sekolah Belanda). Dari kesebelas
anaknya tidak ada yang menempuh pendidikan sekolah kecuali yang bungsu, itupun
setelah Indonesia merdeka dan langsung masuk SMP tidak sekolah SD. Tetapi
kecerdasan semua anaknya itu dikagumi dan diakui walaupun mereka tidak sekolah.
Agus Salim mendidik sendiri semua anaknya itu.
Agus
Salim yang lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Bukit Tinggi
Sumatra Barat dan keturunan jaksa wilayah ini memang seorang yang cerdas.
Mungkin ada faktor genetik juga dari ayahnya yang jaksa dan kakeknya yang ulama
serta keluarga ibunya yang ulama.
Ketika
Salim lulus dari HBS (Hogere Burgerschool, setingkat SMA) ia menjadi lulusan
HBS terbaik di seluruh Indonesia. Hal ini menyebabkan R.A. Kartini mengusulkan
kepada pemerintah Belanda untuk mengalihkan bea-siswa untuk dirinya (tetapi
dihalangi orangtua Kartini) agar diberikan kepada Agus Salim saja untuk
melanjutkan ke sekolah kedokteran di Belanda. Tapi pemerintah Belanda tidak
mengabulkannya.
Tapi
memang di balik semua musibah ada hikmah. Haji Agus Salim di kemudian hari
bersyukur tidak jadi menerima bea-siswa kedokteran. “Kalau saya menerima
bea-siswa kedokteran belom tentu saya menjadi tokoh pergerakan dan pejuang
Indonesia merdeka”, katanya di Cornell University, Amerika Serikat.
Haji
Agus Salim juga jenius di bidang Bahasa. Ia menguasai Bahasa Belanda, Inggris,
Arab, Perancis, Jerman, Turki, dan Jepang. Wajar saja kalau ia menjadi filosof
sekaligus Mbah-nya para diplomat Indonesia. Memang tokoh yang luar biasa.
Akankah Indonesia melahirkan orang besar seperti ini lagi? Mari kita bertanya
saja pada rumput yang bergoyang!
(Agung
Pribadi)
Sejarawan,
Peneliti pada Yayasan Harkat Bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar