Oleh: Karmin Lasuliha
Beberapa jam sudah saya duduk mendengarkan siraman politik yang jauh dari sesuatu mencerahkan ruhani, dalam diskusi itu calo politik menjadi topik utama. Setiap calo merasa menang bahkan ketika berada di tengah kekalahan. basa basi para pengolah kata saat ini adalah menjemput momentum, kata mereka kemenangan bukanlah ketika kandidat yang diusungnya menang melainkan kemenagan itu diperoleh sejauh mana strategi yang dipakai dalam mendapatkan seberapa banyak keuntungan materi.
Teringat dengan cerita kemarin waktu berkunjung ke Kota baru, dikesempatan itu masih saja ada selah untuk pembicaraan politik, bapak-bapak yang merasa diri tidak penting dalam berpolitik seakan menjadi orang cerdas menyinggung busuknya moral politik bangsa....mereka awam tetapi tidak mudah dibodohi, dalam benak sembari mendengarkan " inilah yang menyulitkan kami dilapangan, survey politik seakan menjadi simbol bersenggama untuk mencuri start dari ijab kabul para calon pengantin negeri" semakin sulitnya membujuk pangeran dan permaisuri di tengah golakan pencurian secara berjama'ah, imbas inilah yang sangat tidak menguntungkan karena mereka semakin cerdas menolak di interview dengan aroma politik.
Seharusnya ada perbaikan untuk melihat kembali sucinya perjuangan politik bangsa ini, kita coba menelaah bagaimana lahirnya sebuah perjuangan yang dikatakan Sutan Syahrir atau gerakan demokrasi yang dikatakan Moh. Hatta, perjuangan tulus membentuk indonesia raya yang jauh dari kebisingan pencuri hasil dengungan Komisi Pemberantasan Korupsi.
lantas saja selalu ada kecurigaan kaum lemah dalam proses pelayanan publik, kehadiran orang-orang untuk membantu mereka terus membentuk paradigma menjadi kembang-kembang lambang 42 partai politik berlogo negatif. uraian kata selalu dilihat sebagai rangkaian kalimat propaganda untuk membenci yang lain. politik negeri memberi kesan negatif untuk pembangunan padahal politik adalah bagian dari pembangunan sebuah peradaban.
Papua dan Demokrasi
sebentar lagi momentum pergolakan demokrasi akan di bentangkan di seantero papua, keyakinan kita sama pastinya akan berakhir dengan saling menelanjangi di meja mahkamah konntitusi, rakyat papua seakan jenuh dengan soal yang sama, keadaan yang kita rasakan sekarang sungguh berbalikan dengan realitas masa-masa yang lampau. kebebasan menjadi polemik kaum marjinal tanpa ujung penyelesaian. kondisi segala bidang di papua semakin semerawut apalagi ketika terjadi disclaimer dalam pertanggungan jawab.
peranan politik telah merasuk jauh mengikis sendi-sendi pengembangan masyarakat papua, baik pendidikan, ekonomi maupun sosial budaya. belajar dari hikayat kebangsaan, bila dulu ada kelas sosial sebagai pembeda sekarang ada kelas ekonomi yang membuat beberapa lembaga pendidikan sebagai utopia atau hanya merupakan masyarakat hipotesis sempurna dengan gambaran teoritis penawaran yang tidak pernah sejalan dengan realitas kebutuhan mereka yang tak berpunya, kata seorang penulis Eddri Sumitra saat ini kelas pekerja terdidik sedang mendominas ibukota. tetapi mereka tidak menawarkan perubahan apapun untuk bangsa ini, sungguh sangat ironi.
pemilihan gubernur papua esok adalah sangsi politik bertopeng mengatasnamakan rakyat dengan realita oligarki sebagai wujud aslinya, mainan spekulasi menggeser makna akan majunya demokrasi. pergeseran zaman tentunya sudah lewat, semua terpaku pada satu lempeng bernama pasar. manivestasinya adalah penawaran dan permintaan. idiologinya adalah uang. lembaga yang menjadi dasar idiologi seperti pendidikan hanya sebagai isi dari pasal-pasal untuk perampokan. dalam momentum esok pendidikan masih menjadi isue utama gairah elektabilitas politik pilgub papua, menjemput kelemahan rakyat dengan misi pendidikan yang lebih terarah dan tak perlu biaya masih terus kontinyu dikampanyekan tetapi dalam pelaksanaannya pendidikan tidak lagi diarahkan untuk menciptakan perubahan tetapi untuk sekedar menyemaikan benih kemapanan.
hipotesa Nietzsche lebih satu abad silam terjawab sudah. Tugas pendidikan tinggi adalah mengubah manusia menjadi mesin. Caranya adalah dengan belajar bagaimana merasa bosan. semua itu bisa dicapai dengan konsep tugas. Tiap tahun, ribuan sarjana baru dilahirkan untuk bingung. jika anda tidak memiliki uang dan bekingan kuat maka anda jangan bermimpi untuk berpakaian seragam korpri dan memiliki gaji UMP Rp. 1,585,000,- perbulannya.
Papua adalah milik segelintir orang, jika anda merasa rakyat kecil yang tulus ingin berdedikasi tidak perlu berharap banyak terkecuali anda mampu berspekulasi dengan cara apa saja untuk memuaskan birahi mereka para pemimpin. ini bukan lagi rahasia umum di negeri para pengabdi, ya' anda akan tetap jadi pengabdi jika tak dapat membohongi diri sendiri.
pada akhirnya jika kita ingin meneladani, maka kita cukup meneropong rentang kejadian yang pendek. Gairah "Merdeka atau mati" adalah gairah pembebasan diri. Di india, Gandhi dengan "karega ya marega, berbuat atau mati. Di Amerika, Patria o muerte, tanah air atau mati. merupakan sebuah gairah menciptakan martir, tauladan bagi mereka yang hidup sekaligus energi untuk gagasan pengorbanan diri untuk kebebasan. kampanye para pemimpin baru papua seharusnya meminjam karakter tersebut, sebab tidak adanya karakter martir itulah yang menjadi pangkal masalah kepemimpinan papua saat ini, orasi lantang di perdengarkan bahwa mereka berdiri di semua golongan. tetapi pada hakikatnya mereka bukan hanya sekedar berdiri, tetapi menginjak-injak semua golongan untunk kepentingan pribadi, golongan dan partai politiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar