Ipda Ma'ruf Suroto. (Ferdinan/detikcom)
Merauke - Tugu Sabang-Merauke di Distrik Sota, Merauke, Papua jadi penanda wilayah di paling timur di Indonesia. Tugu ini hanya ada dua, di Sota dan Sabang, Nangroe Aceh Darussalam sebagai penanda kesatuan Indonesia.
Berkunjung ke Merauke tentu harus menengok patok perbatasan dengan Papua New Guinea. Di tempat inilah dikenal sang polisi teladan, Ipda Ma'ruf Suroto. Ma'ruf dikenal karena berhasil mengelola pelataran tugu perbatasan Sota. Mengelola batas wilayah bagi Ma'ruf adalah pengabdian kepada negara dan masyarakat.
Cerita Ma'ruf bermula tahun 2005 ketika dia mendapati pelataran tugu perbatasan Sota tak terurus. Semak ilalang tumbuh lebat di antara batas wilayah Indonesia dengan Papua New Guinea. Gusar wilayah perbatasan tak terawat, Ma'ruf berinisiatif mengelolanya seorang diri. "Tempat ini saya rintis sejak 2005. Dulunya cuma tempat pelataran banyak sampah dan tak terurus," kata Ma'ruf mengawali cerita kepada tim detikcom, Rabu (28/11/2012) kemarin.
Sedih melihat tak terawatnya tugu perbatasan, Ma'aruf yang bertugas di Polsek Sota sejak tahun 1993, mulai mencoba membenahi pelataran tugu. "Jiwa saya terpanggil untuk merawat lahan ini. Saya sendiri benahi dengan istri," lanjut dia.
Ma'ruf membabat semak belukar untuk ditanami pepohonan dan tanaman bunga. Setiap pagi dan sore hari, dia membersihkan pelataran. Hasilnya tahun 2009, setelah empat tahun Ma'ruf membenahi, masyarakat mulai berkunjung ke pelataran tugu perbatasan Sota.
"Sekarang jadi tempat wisata. Hari Minggu dan hari libur penuh di sini," tutur Ma'ruf sumringah.
Berada di pelataran tugu perbatasan memang begitu nyaman. Rindangnya pepohonan mampu menangkal teriknya matahari di Distrik Sota yang sudah hampir setahun tidak diguyur hujan.
Pengunjung yang datang dibuat makin betah karena Ma'ruf melengkapi tamannya dengan arena bermain anak-anak. "Tamu datang jadi hiburan buat saya. Senang karena bisa silaturahim, bertukar pikiran," ujarnya.
Hebatnya lagi, pria kelahiran Magelang ini juga ikut membangun ekonomi warga sekitar. Mar'ruf membolehkan warga sekitar berjualan di tugu perbatasan. "Tahun 2010 masyarakat diajak berdagang, dibanding jualan di kota Merauke, lebih baik disini saja," katanya.
Istrinya, Titi Handayani juga ikut berjualan untuk membantu ekonomi keluarga. Tapi istri Ma'ruf hanya berjualan di hari Minggu dan hari libur nasional. "Tapi kalau hari biasa, saya jadikan balai belajar buat anak-anak sekitar," terangnya.
Di antara batas wilayah Indonesia dan PNG terdapat area netral seluas 150 meter. Patok batas 13 mm yang ditanam pada 23 Agustus 1967 jadi penanda perbatasan kedua negara. "Patok perbatasan Sota hanya saya sendiri yang jaga," ujar Ma'ruf.
Perbatasan Sota menjadi jalur masuk warga PNG ke Indonesia. Warga PNG di sebuah kampung yang berdekatan dengan tugu perbatasan, biasa masuk ke Indonesia untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Mereka biasa berjalan kaki dari PNG ke Merauke melalui Sota.
Meski wilayah perbatasan tidak dijaga, warga negara PNG diwajibkan membawa border pass yang dikeluarkan imigrasi PNG untuk masuk ke Indonesia.
Ma'ruf menjalani tugasnya menjaga perbatasan tanpa keluh kesah. Meski hanya seorang diri, Ma'ruf berhasil membuktikan tekad kuatnya mampu memberikan perubahan bagi lingkungannya.
"Tidak ada yang mau tugas disini. Tapi bagi saya pengabdian untuk masyarakat sangat penting. Saya nikmati saja disini," imbuhnya.
(fdn/rmd)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar